Lahir di provinsi Guangdong di Tiongkok pada tahun 1860, Tjong A Fie datang ke Medan dari Meixian, Guangdong pada tahun 1875 dengan hanya membawa beberapa koin perak di tangannya.

Bersama dengan saudaranya Tjong Yong Hian (1850-1911), dia berhasil membangun usaha dalam bidang perkebunan yang sukses. Perusahaannya sendiri mempekerjakan lebih dari 10.000 karyawan. Keberhasilannya tersebut membuat dia mempunyai hubungan yang dekat dengan para petinggi-petinggi Medan pada saat itu, di antaranya Sultan Deli Makmun Al Rasjid dan pejabat-pejabat kolonial Belanda. Tjong A Fie pun lalu dilantik sebagai Kapitan China (Majoor der Chineezen), pemimpin komunitas Tionghoa di Medan, menggantikan Yong Hian yang wafat.

Salah satu peninggalannya yang masih cukup terkenal hingga saat ini adalah rumahnya di kawasan Kesawan. Diselesaikan pada tahun 1900, rumahnya yang menunjukkan pengaruh campuran Art Deco-Tionghoa-Barat kini menjadi salah satu ikon kota Medan dan saat ini menjadi Tjong A Fie Memorial Institute.

 

 

 

Pengaruh Tjong A Fie tidak hanya terasa di Medan saja, namun juga di luar negeri seperti Penang, Singapura, Hong Kong, Tiongkok dan bahkan Amsterdam. Di Amsterdam, dia menjadi salah seorang pendiri Institut Kolonial yang kini bernama Institut Tropis Kerajaan (Koninklijk Instituut voor de Tropen).

Tjong A Fie meninggal pada tahun 1921.

Nama Tjong A Fie sempat diabadikan sebagai nama sebuah jalan di Medan, meski nama jalan tersebut kemudian diganti lagi menjadi Jl. KH Ahmad Dakhlan.




 
Read in English version


             
     
 
Home | History | Inside | Activities | Make a Donation | The Future | Press Release | Contact Us

Tjong A Fie Memorial Institute for Indonesian Chinese Cultural Heritage © 2008 Tjong A Fie Memorial Institute.
Site Design by daf.